3 Cara Menyikapi Rasa Penasaran Si Kecil dengan Bijak

Menyikapi Rasa Penasaran Si Kecil dengan Bijak
Sumber: Freepik

Berkumpul bersama keluarga merupakan momen yang paling menyenangkan. Terlebih saat melihat kepolosan, keluguan, dan kejujuran yang sering dilakukan oleh si kecil. Perilaku anak-anak yang unik tersebut membuat kita sering sekali tertawa bahkan takjub. Kepolosan dan kejujuran anak merupakan hal yang wajar terjadi. Mengapa? Karena anak merupakan anugerah Tuhan yang dititipkan kepada kita sebagai orang dewasa.

Bukan hanya dari perilakunya saja yang seringkali membuat kita takjub, namun juga pertanyaan-pertanyaan yang sering keluar dari bibir mungilnya. Banyak orang tua yang kesulitan untuk menjawab pertanyaan spontan yang diajukan oleh anak. Ya, hal ini terjadi karena di masa usia dini, anak berada pada masa keemasan dan masa kritis. Orang tua juga harus tahu bahwa anak memiliki keingintahuan yang besar akan hal yang terjadi di sekitarnya.

Dimulai dari keingintahuan tentang sesuatu hal yang ia lihat, dengar, sampai yang ia rasakan. Misalnya anak bertanya, “kenapa aku punya dua mata, tapi mulutnya hanya ada satu?” atau “kenapa dede ada di perut bunda?” Keingintahuan besar dari seorang anak seperti ini perlu disikapi dengan bijak oleh kita. Kalau orang tua bijak dalam menjawab rasa penasaran anak, maka anak akan berlatih untuk memiliki Minat belajar yang luar biasa.

Baca juga

Berikut adalah tips untuk menyikapi rasa penasaran anak dengan bijak:

1. Jujur

Saat anak bertanya di luar dugaan kita, sikapilah dengan jujur. Artinya, beri jawaban kepada anak secara objektif sesuai dengan keadaan sebenarnya. Hindari jawaban yang mengecoh pemikiran anak. Misalnya saat anak bertanya, “kenapa dede ada di perut bunda?” Sikapi dengan jawaban, “karena dede membutuhkan perut bunda selama 9 bulan untuk bisa hidup sebelum dede dilahirkan ke dunia.” Ini akan membuat anak mengerti bahwa ia perlu menunggu waktu 9 bulan untuk dapat bertemu dengan adiknya.   

2. Analogikan Sesuai Usia Anak

Anak membutuhkan jawaban sesuai dengan usianya. Beri informasi yang dapat dimengerti oleh anak. Kita bisa menganalogikan sesuatu berdasarkan contoh yang telah ada. Misalnya saat anak bertanya, “kenapa ada pelangi?” Kita bisa mengajak anak membuat busa sabun bersama. Buatlah busa sabun yang besar dan ajak anak untuk melihat pelangi lebih dekat. Setelah itu kita bisa beri pemahaman sesuai usia anak kalau pelangi ada karena campuran dari air dan cahaya. Seperti busa sabun yang telah dibuat.

3. Bersikap Bijak

Hindari penolakan untuk menjawab pertanyaan anak, karena hal ini akan berpotensi menjadikan anak malas belajar. Biarkan anak tumbuh dengan rasa ingin tahu yang besar. Jadilah orang tua yang bijak dalam mendidik anak, agar anak dapat menjadi pembelajar mandiri sepanjang hayat. (TC)

Tinggalkan Balasan