3 Pola Asuh Orang Tua untuk Anak

3 Pola Asuh Orang Tua untuk Anak
Sumber: Freepik

Pola asuh anak tentu sangat penting dipelajari oleh para orang tua, bahkan semua orang dewasa. Karena melalui pola asuh, dapat membentuk karakter dan kepribadian anak. Setiap pasangan pasti memiliki pola asuhnya masing-masing untuk anak. Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu pola dan asuh.

Menurut KBBI, pola berarti corak, model, sistem, cara kerja, bentuk. Sedangkan asuh dapat diartikan menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil, membimbing (membantu, melatih dan sebagainya). Dari arti dua suku kata tersebut, dapat didefinisikan bahwa pola asuh adalah bagaimana orang tua memperlakukan anak, mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak dalam mencapai proses kedewasaan, hingga kepada upaya pembentukan norma-norma yang diharapkan oleh masyarakat umum.

Lalu bagaimanakah pola asuh Ayah Bunda kepada anak? Nah, ada tiga pola asuh orang tua terhadap anak, yakni:

1. Pola Asuh Otoriter

Pola asuh otoriter merupakan cara didik orang tua yang berkuasa terhadap anak. Mengasuh anak dengan aturan-aturan yang ketat. Jika anak membantah, maka akan mendapat hukuman, yang biasanya berupa hukuman fisik. Orang tua memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya, anak tidak diberi kebebasan untuk berpendapat, dan tidak ada reward atau pujian karena dianggap sudah sewajarnya anak menuruti orang tua. Pola asuh otoriter ini akan membuat anak tidak dapat menjadi dirinya sendiri dan tidak kreatif. Adapun ciri-ciri orang tua yang berpola asuh otoriter, yaitu kurang komunikasi, sangat berkuasa, suka menghukum, selalu mengatur, suka memaksa, bersifat kaku.

2. Pola Asuh Permisif

Pola asuh permisif yaitu kebalikan dari pola asuh otoriter. Orang tua serba membolehkan anak berbuat apa saja. Anak bebas untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri tanpa adanya pengawasan dari orang tua. Pola asuh permisif ini akan membuat anak cenderung menjadi manja, agresif, sulit bekerja sama dengan orang lain, berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Adapun ciri-ciri orang tua yang berpola asuh permisif, yaitu kurang membimbing, kurang mengontrol anak, tidak pernah menghukum anak, anak lebih berperan daripada orang tua, dan memberi kebebasan penuh terhadap anak.

3. Pola Asuh Demokratis

Pola asuh demokratis adalah gabungan antara pola asuh permisif dan otoriter dengan tujuan untuk menyeimbangkan pemikiran, sikap dan tindakan antara anak dan orang tua. Pola asuh ini memperhatikan dan menghargai kebebasan anak, namun orang tua tetap memberikan bimbingan yang penuh pengertian kepada anak. Memberi kebebasan anak berpendapat, dan memberi reward berupa pujian untuk kemampuannya. Hal ini mendorong anak untuk mampu berdiri sendiri dan yakin dengan dirinya. Pola asuh demokratis ini membuat anak menjadi orang yang menerima kritik, mampu menghargai orang lain, mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dan mampu bertanggung jawab terhadap kehidupan sosialnya. Adapun ciri-ciri orang tua yang berpola asuh demokratis, yaitu suka berdiskusi dengan anak, mendengarkan keluhan anak, memberi tanggapan, komunikasi yang baik, dan tidak kaku.

Baca juga

Bagaimana Ayah Bunda, setelah mengetahui jenis pola asuh di atas, manakah yang menjadi pola asuh Ayah Bunda kepada anak, apakah pola asuh otoriter, permisif atau demokratis? Lalu, pertanyaannya adalah “biMBA menggunakan pola asuh yang mana saat proses membimbing Minat baca dan Minat belajar anak?” Mari kita kaji kembali.

Saat Ayah Bunda dan semua orang dewasa menerapkan paradigma biMBA, maka tidak ada lagi yang memaksa anak untuk belajar. Tetapi menumbuhkan Minat baca dan Minat belajarnya dilakukan dengan proses yang sepenuhnya menyenangkan. Sehingga dapat dipastikan, biMBA tidak menggunakan pola asuh otoriter.

Memberikan kebebasan sepenuhnya kepada anak, tanpa membimbing, mengawasi dan mengontrol anak.  Sedangkan biMBA, untuk menumbuhkan Minat belajar yaitu dengan proses bimbingan. Membimbing Minat belajar dengan metode biMBA yaitu wajib menyenangkan, bertahap, dan mengenal anak secara individual. Sehingga dapat dipastikan, biMBA juga tidak menggunakan pola asuh permisif.

Pola asuh yang ketiga ini, memberikan bimbingan, reward, adanya komunikasi yang baik dengan anak, dan mendengar cerita/pendapat anak, inilah yang dilakukan biMBA dalam proses menumbuhkan Minat baca dan Minat belajar anak. Sehingga dapat disimpulkan, biMBA menggunakan pola asuh yang demokratis.

Nah, Ayah Bunda, pilihlah pola asuh yang tepat, karena pola asuh orang tua mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan anak. Didiklah anak dengan cara yang istimewa, karena anak adalah anugerah dari Tuhan YME, maka orang dewasa wajib memberikan pendidikan kepada anak dengan penuh cinta dan kasih sayang. (Crn)

Tinggalkan Balasan