5 Kebiasaan Orang Tua yang Tidak Baik

Kebiasaan Orang Tua yang Tidak Baik

Apa saja kebiasaan orang tua yang tidak baik?

Apakah sahabat biMBA mulai merasa kesulitan mengendalikan perilaku anak anda? Apakah anda dan pasangan sering tidak sepaham dalam mendidik anak anak? Apakah anak sering merengek dan memaksa untuk dituruti kemauannya? Apakah anak anda sering berantem satu sama lain? Atau, apakah anda kesulitan karena anak selalu menonton TV atau bermain PS?

Jika Anda menjawab YA dari salah satu pertanyaan diatas, maka ada baiknya membaca sejumlah kebiasaan orang tua yang dapat menghasilkan perilaku buruk untuk anak, dikutip dari buku Ayah Edie berikut ini:

1. Raja yang tak pernah salah

Sewaktu anak kita masih kecil dan belajar berjalan tidak jarang tanpa sengaja mereka menabrak kursi atau meja, lalu menangis. Umumnya, yang dilakukan oleh orang tua supaya tangisan anak berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja mereka tabrak. Sambil mengatakan, “Siapa yang nakal ya? Ini sudah papa/Mama pukul kursi/mejanya…sudah cup…cup…diem ya..”. Akhirnya si anak pun terdiam.

Ketika proses pemukulan terhadap benda benda yang mereka tabrak terjadi, sebenarnya kita telah mengajarkan kepada anak kita bahwa ia tak pernah bersalah. Yang salah orang atau benda lain. Pemikiran ini akan terus terbawa hingga ia dewasa. Akibatnya, setiap ia mengalami suatu peristiwa dan terjadi suatu kekeliruan, maka yang keliru atau salah adalah orang lain, dan dirinya selalu benar. Akibat lebih lanjut, pantas untuk diberi peringatan sanksi, atau hukuman adalah orang lain yang tidak melakukan suatu kekeliruan atau kesalahan.

Kita sebagai orang tua baru menyadari hal tersebut ketika si anak sudah mulai melawan pada kita. Perilaku melawan ini terbangun sejak kecil karena tanpa sadar kita telah mengajarkan untuk tidak pernah merasa bersalah.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika si anak yang baru berjalan menabrak sesuatu sehingga membuatnya menangis? Yang sebaiknya kita lakukan adalah ajarilah ia untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi, katakanlah padanya (sambil mengusap bagian yang menurutnya terasa sakit), “Sayang, kamu terbentur ya. Sakit? Lain kali hati-hati ya, jalannya pelan-pelan saja dulu supaya tidak membentur lagi.”

2. Berbohong Kecil

Awalnya anak-anak kita adalah anak yang selalu mendengarkan kata-kata orang tuanya, mengapa? Karena mereka percaya sepenuhnya pada orangtuanya. Namun, ketika anak beranjak besar, ia sudah tidak menuruti perkataan atau permintaan kita? Apa yang terjadi? Apakah anak kita sudah tidak percaya lagi dengan perkataan atau ucapan-ucapan kita lagi?

Tanpa sadar kita sebagai orang tua setiap hari sering membohongi anak untuk menghindari keinginan. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak berkeliling perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskan dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengalihkan perhatian si kecil ke tempat lain, setelah itu kita buru-buru pergi? Atau yang ekstrem kita mengatakan, “Papa/Mama hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya, Sayang.” Tapi ternyata, kita pulang malam.

Contoh sering yang sering kita lakukan ketika kita sedang menyuapi makan anak kita, “Kalau maemnya susah, nanti Papa atau Mama tidak ajak jalan-jalan loh.” Padahal secara logika antara jalan-jalan dan cara/pola makan anak, tidak ada hubungannya sama sekali.

Dari beberapa contoh di atas, jika berbohong ringan atau sering kita istilah “Bohong kecil”, dampaknya ternyata besar. Anak tidak percaya lagi dengan kita sebagai orang tua. Anak tidak dapat membedakan pernyataan kita yang bisa dipercaya atau tidak. Akibat lebih lanjut, anak menganggap semua yang diucapkan oleh orang tuanya itu selalu bohong, anak mulai tidak menuruti segala perkataan kita.

Apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapan dengan penuh kasih dan pengertian: “Sayang, Papa/Mama mau pergi ke kantor, kamu tidak bisa ikut, tetapi kalau Papa/Mama ke kebun binatang, kamu bisa ikut.” Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari.

Kita harus bersabar dan lakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami keadaan mengapa orang tuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut. Sebaliknya bila pergi selain kantor, anak pasti diajak orangtuanya. Pastikan kita selalu jujur dalam mengatakan sesuatu. Anak akan mampu memahami dan menuruti apa yang kita katakan.

3. Banyak Mengancam

“ Adik, jangan naik ke atas meja! Nanti jatuh dan gak ada yang mau menolong!”
“Jangan ganggu adik, nanti Mama/Papa marah!”

Dari sisi anak pernyataan yang sifatnya melarang atau perintah dan dilakukan dengan cara berteriak tanpa kita beranjak dari tempat duduk atau tanpa kita menghentikan suatu aktivitas, pernyataan itu sudah termasuk ancaman. Terlebih ada kalimat tambahan”….nanti Mama/Papa marah!”

Seorang anak adalah mahluk yang sangat pandai dalam mempelajari pola orang tua. Anak tidak hanya bisa mengetahui pola orangtua mendidik, tetapi dapat membelokkan atau malah mengendalikan pola orangtuanya. Hal ini terjadi bila kita sering menggunakan ancaman dengan kata-kata. Namun, setelah itu tidak ada tindak lanjut atau mungkin kita sudah lupa dengan ancaman-ancaman yang pernah kita ucapkan.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Kita tidak perlu berteriak-teriak seperti itu. Dekati si anak, hadapkan seluruh tubuh dan perhatian kita padanya.   Tatap matanya dengan lembut. Namun, perlihatkan ekspresi kita tidak senang dengan tindakan yang mereka lakukan. Sikap itu juga dipertegas dengan kata-kata, “Sayang, Papa/Mama mohon supaya kamu boleh meminjamkan mainan ini pada adikmu, Papa/Mama akan makin sayang sama kamu.”

Tidak perlu ada ancaman atau teriakan-teriakan. Atau kita bisa juga menyatakan suatu pernyataan yang menjelaskan suatu konsekuensi, misal,“Sayang, bila kamu tidak meminjamkan mainan ini ke adikmu, Papa/Mama akan menyimpan mainan ini dan kalian tidak bisa bermain. Mainan akan Papa/Mama keluarkan, bila kamu mau pinjamkan mainan itu ke adikmu. Tepati pernyataan itu dengan tindakan.

4. Bicara Tidak Tepat Sasaran

Pernahkah kita menghardik anak dengan kalimat seperti, “ Papa/Mama tidak suka bila kamu begini/begitu!” atau “Papa/Mama tidak mau kamu berbuat seperti itu lagi!”. Namun, kita lupa menjelaskan secara rinci dan dengan baik, hal-hal atau tindakan apa saja yang kita inginkan.

Anak tidak pernah tahu apa yang diinginkan atau dibutuhkan oleh orangtuanya dalam hal berperilaku. Akibatnya anak terus mencoba sesuatu yang baru. Dari sekian banyak percobaan yang dilakukannya, ternyata selalu dikatakan salah oleh orang tuanya. Hal ini mengakibatkan mereka berbalik untuk dengan sengaja melakukan hal-hal yang tidak disukai orang tuanya. Tujuannya untuk membuat orang tuanya kesal sebagai bentuk kekesalan yang juga dialami (tindakannya selalu salah di hadapan orang tua).

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Sampaikanlah hal-hal atau tindakan-tindakan yang kita inginkan atau butuhkan pada saat kita menegur mereka terhadap perilaku atau hal yang tidak kita sukai. Komunikasikan secara intensif hal atau perilaku yang kita inginkan atau butuhkan. Dan pada waktunya, ketika mereka sudah mengalami dan melakukan segala hal atau yang kita inginkan atau butuhkan, ucapkanlah terima kasih dengan tulus dan penuh kasih sayang atas segala usahanya untuk berubah.

5. Menekan Pada Hal-hal yang Salah

Kebiasaan ini hampir sama dengan kebiasaan di atas. Banyak orangtua yang sering mengeluhkan tentang anak-anaknya tidak akur, suka bertengkar. Pada saat anak bertengkar, perhatian kita tertuju pada mereka, kita mencoba melerai atau bahkan memarahi.

Tetapi, apakah kita sebagai orangtua memperhatikan mereka pada saat mereka bermain dengan akur? Kita seringkali menganggapnya tidak perlu menyapa mereka karena mereka sedang akur. Pemikiran tersebut keliru, karena hak itu akan memicu mereka untuk bertengkar agar bisa mencari perhatian orangtuanya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Berilah pujian setiap kali mereka bermain dengan asyik dan rukun, setiap kali mereka berbagi diantara mereka dengan kalimat sederhana dan mudah dipahami, misalnya: “Nah, gitu dong kalau main, yang rukun,” peluklah mereka sebagai ungkapan senang dan sayang.

Demikianlah 5 kebiasaan orang tua yang dapat berpengaruh buruk pada pembentukan karakter anak dan kepribadian anak.

Semoga bermanfaat bagi sahabat biMBA semua.(Hady AIUEO)
Salam biMBA “Tetap Semangat dan Terus Belajar”.

Sumber :
http://www.ibudanbalita.net/1611/5-kebiasaan-orang-tua-yang-tidak-baik-untuk-perilaku-anak.html

Tinggalkan Balasan