Apakah Sulit Menjadi Guru ?

Apakah Sulit Menjadi Guru ?

Sumber : http://studentnationaleducation.blogspot.com/2012/09/mengenal-5-sifat-dan-budaya-seorang-guru.html
Sumber : http://studentnationaleducation.blogspot.com/2012/09/mengenal-5-sifat-dan-budaya-seorang-guru.html

Bila banyak orang bilang bahwa menjadi seorang guru adalah tugas mulia, saya salah satu yang sangat mendukung pernyataan tersebut. Bagaimana tidak, menjadi seorang guru bukan hanya dibutuhkan kemampuan teknis untuk mengajar atau mentransfer materi pelajaran tertentu saja dan memberikan penilaian di atas kertas atas hasil belajar siswanya. Tetapi menjadi seorang guru juga harus mampu untuk mendidik siswanya. Mendidik disini maksudnya bahwa guru sebagai orang tua siswa di sekolah, yang menjadi salah satu teladan bagi siswa-siswanya, tentunya harus mampu menularkan dan menanamkan sifat dan sikap yang mengandung nilai-nilai positif serta mendidik moral bagi kepribadian mereka. Selain itu yang tidak kalah pentingnya bahwa peranan guru harus mampu untuk menginspirasi, memborbardir motivasi bagi siswa-siswanya, mensupport, membantu mereka dalam menggali potensi dirinya serta meyakinkan mereka bahwa mereka pasti akan berhasil dan bisa melakukannya. Dengan demikian, idealnya seorang guru merupakan sosok yang mengajarkan apa yang telah ia lakukan dan melakukan apa yang telah ia katakan. Jadi guru jangan seperti seorang tukang cukur, yang bisa memotong rambut orang lain namun tidak dapat memotong rambutnya sendiri. Jangan hanya mampu mengajarkan sebelum ia melakukannya, dan berperilakulah sesuai dengan apa yang ia katakan.

Seringkali saya berpikir, guru itu adalah sosok yang luar biasa. Pengabdiannya “mendidik” anak orang lain, dengan berbagai latar belakang budaya, sosial, karakter yang berbeda-beda tentunya juga membutuhkan strategi cerdas dan cemerlang untuk “menaklukkan siswanya” sehingga tujuan dari pembelajaran itu sendiri dapat tercapai. Nah, sekarang pertanyaannya, sesuai dengan judul artikel ini, apakah menjadi guru itu sulit? Kalau mau jujur, bagi saya pribadi saja yang baru memiliki dua orang anak, sudah luar biasa tanggung jawabnya dalam mengajarkan dan mendidik mereka. Saya juga harus ekstra telaten, sabar dan gigih dalam merelief anak-anak sehingga apa yang saya impikan terhadap anak-anak dapat terwujud. Apalagi menjadi seorang guru, yang diamanahkan oleh begitu banyak orang tua siswa untuk mengajarkan dan mendidik mereka. Padahal amanah itu berasal dari latar belakang yang berbeda-beda dengan isi kepala yang berbeda-beda pula. Sungguh pekerjaan yang tidak mudah tetapi luar biasa mulia.

Bila benar-benar ingin menjadi sosok guru ideal seperti penjabaran di atas memang tidak mudah tetapi tingkat kesulitannya juga tidak spektakuler. Asalkan kita benar-benar memiliki tekad dan keinginan kuat untuk berhasil mengajar dan mendidik. Menjadi guru semacam ini dapat memberikan kepuasan batin yang tidak dapat semata-mata diukur dengan materi sekalipun. Karena guru semacam ini benar-benar telah mendapat “panggilan hidup” untuk benar-benar mau menjadi seorang “real teacher”. Kesulitan apapun yang dihadapinya, dapat dengan mudah diselesaikan. Kenapa? karena bila profesi yang kita jalani sudah menjadi panggilan hidup kita, maka secara naluriah, kita akan melakukan usaha semaksimal mungkin saat kita sadar bahwa yang sedang kita jalani adalah panggilan hidup kita. Lain halnya bila mereka yang menjadi guru hanya sekedar mencari gaji atau pelarian karena tidak diterima kerja di perusahaan lain, sangat mungkin bisa menjadi guru yang hebat dalam hal mentransfer materi pelajaran saja. Tetapi bisa jadi gagal dalam mendidik dan mentransfer nilai-nilai sosial bagi kehidupan siswanya.

Sepertinya kita harus meniru negara lain yang begitu menghormati kedudukan seorang guru. Misalnya saja, di Jepang, profesi guru merupakan profesi sangat terhormat layaknya profesi kerah putih lainnya. Panggilan guru sama halnya seperti panggilan bagi seorang dokter dan pengacara, yaitu dengan sebutan, sensei. Mereka begitu hormat dan respek dengan semua guru. Guru dianggap sosok yang sangat berjasa dan memiliki peranan penting bagi keberhasilan setiap siswa. Coba kita pikir kembali, mulai dari profesi yang dianggap masyarakat adalah profesi terendah hingga posisi elite seperti duta besar atau presiden, semuanya tidak pernah lepas dari peranan guru dalam kehidupan mereka. Guru bisa tetap menjadi guru tanpa bantuan duta besar atau presiden. Tetapi duta besar atau presiden tidak akan dapat menjadi seorang duta besar atau presiden tanpa bantuan guru. Jadi, teacher is the mother of all professions.

Hellen Keller, seorang tuna rungu, yang berprofesi sebagai penulis, aktivis politik dan dosen dari Amerika, pernah menyatakan bahwa The most beautiful thing on earth can neither be seen nor be touch. Hal terindah di dunia tak bisa dilihat ataupun disentuh termasuk juga ketika memiliki perasaan bangga bila melihat siswa kita berhasil: berhasil untuk membaca, berhitung, membuat karangan sendiri dan menulis. Berhasil pula dalam meningkatlan rasa percaya dirinya, yang tadinya kalau sekolah harus ditemani orang tua, yang tadinya takut atau malu untuk bernyanyi, dan lain-lain. Namun berkat kesabaran, kegigihan dan ketelatenan seorang guru, siswa dapat berubah menjadi lebih baik seiring dengan berjalannya waktu. Perasaan bahagia menyelimuti hati seorang guru bila melihat siswanya berhasil. Walaupun mungkin bagi sebagian orang melihat ini adalah hal yang biasa, tapi bagi seorang guru ini bukan masalah logika lagi, kebahagiaan guru ketika melihat siswanya berhasil, dari yang tidak bisa menjadi bisa, ini adalah masalah hati, yang terkadang sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata karena begitu bahagianya hati seorang guru melihat siswanya berhasil.

Bersyukurlah yang sekarang sudah menjalankan profesi sebagai guru, atau yang akan menjadi seorang guru. Menjadi guru memberikan peluang besar bagi kita untuk membantu orang lain mewujudkan impian mereka dan hal ini amat membahagiakan. Jangan sampai terbersit untuk melakukan profesi guru tanpa melibatkan “kasih” di dalamnya, karena hal ini akan membuat kita hanya dapat melakukannya dalam waktu singkat, tidak lama kemudian hati kecil kita akan merasa sangat letih dan berontak. Kasihilah siswa-siswa kita, perlakukan mereka sebagai manusia ciptaan Tuhan yang butuh kasih sayang. Bukan hanya sebagai objek aktivitas belajar mengajar di kelas saja. Cinta kasih berperan besar dalam membantu kita memberi yang terbaik bagi siswa-siswa.

Jadi bila masih ada guru yang merasa rendah diri terhadap profesinya, cobalah dipikir dan direnungkan kembali. Bila dirinya saja tidak menghargai profesinya dan tidak menghargai dirinya sendiri, bagaimana orang lain mau menghargai profesi mereka. Pada akhirnya para guru sendirilah yang paling kompeten untuk memberi penilaian bagi profesinya tersebut. Apapun itu alasan mereka, bagi saya, profesi guru adalah posisi terhormat dan mulia.(Bunda Ranis)

Referensi :

http://en.wikipedia.org/wiki/Helen_Keller

Meicky Shoreamanis Panggabean. Menjadi Guru itu Mengasyikkan!. Jakarta : Akademia Permata. 2013

Peggy Klaus. Jangan Anggap Sepele Soft Skills : Keterampilan yang dipraktekkan orang cerdas di tempat kerja. Jakarta : Libri. 2012

Tinggalkan Balasan