Berhenti Menuntut Anak Berprestasi

Berhenti Menuntut Anak Berprestasi
Sumber: Freepik.com/Master1305

Akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang tua manakala buah hati kesayangannya berhasil mendapatkan prestasi juara di kelasnya. Bahkan banyak orang tua yang sampai melakukan banyak cara agar anaknya mendapatkan prestasi itu. Tidak bisa dipungkiri memang, memiliki anak yang cerdas dalam hal akademik menjadi harapan dan keinginan bagi setiap orang tua.

Namun terkadang banyak juga orang tua yang cenderung memaksakan anak untuk bisa menuruti kehendaknya tersebut. Tambahan belajar seperti les private hingga menyewa guru pribadi dilakukan dengan harapan kemampuan akademik dan kecerdasan anak meningkat. Apakah cara seperti ini efektif bagi setiap anak? Tentunya hal itu kembali lagi kepada pribadi dan karakter yang dimiliki oleh masing-masing anak.

Jika memang dari mereka sudah memiliki Minat dan menyukai kegiatan belajar, tentu saja akan bisa lebih cepat terampil dan kemampuannya akan jelas bertambah walaupun tanpa  adanya belajar tambahan seperti itu. Lantas bagaimana dengan anak yang kurang menyukai dan cenderung biasa saja dalam hal yang menyangkut pelajaran? Sebagai orang tua sudah sepatutnya memahami dan mengerti, bahwa apapun sifatnya, memaksa adalah hal yang sangat buruk bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Lihat saja, di usia mereka yang mungkin masih terbilang dini, ia sudah dipaksa untuk berpikir keras dan mewarnai hari-harinya dengan belajar, belajar, dan belajar. Tentu saja ini sudah keluar dari tujuan pendidikan yang sifatnya menyenangkan. Memang tujuan dari itu semua, menurut sebagian besar orang tua adalah jalan yang terbaik bagi anak-anaknya dalam meningkatkan kemampuan akademiknya.

Semua orang tua pasti sangat mengharapkan anaknya bisa mendapatkan nilai yang besar di semua bidang pelajaran. Bayangkan saja mereka di sekolah belajar tatap muka selama berjam-jam. Mungkin dalam satu hari, mereka belajar 2-3 pelajaran, belum lagi tugas yang diberikan oleh masing-masing guru untuk dikerjakan di rumah.

Baca juga

Jika waktu mereka dipergunakan untuk terus-terusan belajar maka yang ada anak akan merasa bosan dan malas. Mereka akan menganggap belajar sama sekali tidak menyenangkan dan tidak membuatnya semangat. Hal seperti itu tentunya sangat dikhawatirkan, karena bisa berdampak buruk dan bahaya bagi karakter mereka. Jika tadinya ada anak yang sangat menyukai dan memiliki Minat dalam salah satu pelajaran, itu mungkin bisa hilang begitu saja.

Mengapa begitu? Karena ia telah berpikir bahwa belajar adalah suatu yang membuatnya bosan dan menjenuhkan. Dampaknya anak akan malas dan enggan untuk belajar. Rutinitas seperti ini memang perlu dikaji dan dipahami sesuai kemampuan dan karakter masing-masing anak. Belum lagi jika dampak-dampak buruk lainnya muncul dalam karakter diri mereka, seperti mencontek.

Jika memang karakter demikian yang malah melekat dan tertanam dalam karakter mereka, tentu saja ini menjadi hal yang sangat menyedihkan dan tentunya kerugian besar. Sebab jika telah tertanam dalam diri mereka karakter seperti itu, dikhawatirkan kebiasaan itu akan terus terbawa hingga usia dewasa. Jika sudah seperti ini, bukan lagi anak yang harus disalahkan, namun orang tua juga bertanggung jawab, karena mereka melakukan itu dengan alasan mewujudkan keinginan orang tuanya.

Sudah semestinya orang tua menjadi tombak yang mengarahkan dan mendukung apapun bagi kebahagiaan dan masa depan mereka. Tidak perlu untuk mengejar ambisi yang dibebankan kepada anak-anak kita. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa anak yang juara adalah anak yang rajin belajar dan memiliki kemampuan di atas rata-rata.

Namun juara juga bukan hanya dalam hal akademik saja. Jika memang anak kita memiliki Minat dan kemampuan di bidang non akademik, lebih baik kita mendukung dan mengapresiasi bakatnya itu. Jangan biarkan apa yang sudah menjadi kesukaannya hilang begitu saja. Pahami dan pelajari yang memang menjadi kesukaan anak.

Bimbing dan berikan dukungan dengan penuh kasih sayang kepada mereka. Buatlah mereka yakin dan percaya diri akan kemampuannya. Tunjukkan dan beri pemahaman kepada anak bahwa juara bukan hanya mendapatkan nilai bagus dan sanjungan saja, tetapi pembuktian pembuktian. Jika memang anak belum berhasil menjadi juara, tetaplah apresiasi dan berikan dukungan kepadanya.

Yuk, Ayah Bunda ubah pola pikir dengan tidak menuntut banyak dari buah hati kita. Jangan biarkan mereka menganggap dirinya sebagai orang yang gagal. (Ajr)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.