Gerakan Membaca 10 Menit untuk Meningkatkan Minat Baca Anak

Sebagai orangtua masa kini mungkin Anda perlu mengetahui fakta berikut ini, yaitu rendahnya Minat baca anak Indonesia bila dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia. Bila dihitung dalam persentase, Minat baca anak Indonesia mencapai sekitar 51.7%, sedikit lebih rendah dari negara tetangga Filipina, Thailand mencapai 65.1%, Singapura mencapai 74%, dan tertinggi adalah Jepang dengan peringkat 82.3%.

Gerakan Membaca 10 Menit untuk Meningkatkan Minat Baca Anak

Hal ini tentu cukup memprihatinkan karena membaca atau membacakan buku bagi anak akan membawa dampak yang sangat baik bagi perkembangan mereka. Dengan membaca buku wawasan dan ilmu pengetahuan mereka akan bertambah terutama dalam dunia pendidikan mengingat buku adalah gudang ilmu bagi siapa saja. Menambah ilmu pengetahuan lewat membaca maka kualitas SDM juga akan meningkat dan hal ini akan berdampak pada kemajuan bangsa.

Program membaca 10 menit sehari untuk menumbuhkan Minat baca anak
Bertepatan dengan hari buku internasional atau World Book Day bulan April yang lalu, pemerintah mencanangkan kembali semangat membaca bagi anak-anak di tanah air dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan mempopulerkan program membaca 10 menit sehari untuk siswa sekolah. Hal ini diharapkan bisa menumbuhkan rasa cinta anak kepada buku dan secara otomatis akan menumbuhkan serta meningkatkan Minat baca anak.

Program ini tentu akan dapat meraih kesuksesan bila berbagai pihak yang terkait bekerja sama terutama yang dalam keseharian bersentuhan secara langsung dengan generasi-generasi muda penerus bangsa ini, misalnya pendidik di sekolah dan orangtua di rumah. Pemberdayaan perpustakaan secara maksimal di sekolah misalnya, tentu memegang peranan penting untuk meningkatkan semangat membaca pada anak. Di sini kepala sekolah harus berperan aktif sebagai ujung tombak pengadaan perpustakaan misalnya, bila memang di sekolah yang bersangkutan belum tersedia.

Selain itu pemerintah daerah juga harus turut memperhatikan kondisi ini termasuk guru dan pustakawan sebagai pengembang perpustakaan. Kondisi yang berlangsung di beberapa daerah, terutama daerah terpencil saat ini memang cukup memprihatinkan karena banyak sekolah mulai dari taraf SD hingga SMA yang belum mempunyai perpustakaan sekolah. Seandainya ada sekalipun sifatnya tertutup dan sulit berkembang karena persoalan dana. Tentu saja akan sulit menarik Minat siswa untuk singgah di perpustakaan bila koleksi buku-bukunya sudah tua, kondisinya lapuk dan rusak, atau suasana perpustakaan yang kurang nyaman.

Demi menyukseskan progam meningkatkan Minat baca anak, pemerintah daerah mempunyai kewenangan untuk memberikan fasilitas dengan bermitra dengan pihak-pihak swasta untuk menjadi sponsornya. Program yang sebelumnya digagas oleh pemerintah berupa perpustakaan keliling saat ini pengoprasiannya perlu ditingkatkan termasuk memperluas jangkauannya terutama bagi daerah-daerah terpencil. Selain itu armada mobil perpustakaan juga sebaiknya ditambah dan tak lupa perbaruan koleksi buku-bukunya secara berkala. Inilah investasi kita bagi kemajuan bangsa dan negara ini di masa depan.

Sesungguhnya untuk mewujudkan hal tersebut seluruh pihak terkait mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, pustakawan, pihak swasta, serta berbagai elemen masyarakat termasuk orangtua harus turut serta. Orangtua sebagai titik fokus lingkungan pertama anak selayaknya menanamkan kebiasaan membaca ini sejak usia dini. Dengan demikian putra-putri kita tak akan merasa terpaksa lagi dan bahkan akan tertanam di pengertiannya bahwa membaca adalah salah satu kegiatan mengisi waktu luang yang menyenangkan.

Menanamkan Minat baca anak sedini mungkin tentu harus dimulai dari orangtua terlebih dahulu. Anak adalah peniru yang hebat sehingga orangtua sebaiknya memberikan teladan yang baik dalam kesehariannya. Bila anak sering melihat orangtua membaca setiap hari dan membacakan cerita bagi mereka tentu mereka juga akan tertarik dan mencoba mencontohnya. Nah, semoga bermanfaat! (Cw/Ern)