Kiat Menyikapi Rasa Takut dan Trauma Pada Anak

Kiat Menyikapi Rasa Takut dan Trauma Pada Anak
Sumber: Pixabay

Suatu pagi, kami kedatangan seorang gadis kecil yang ditemani neneknya untuk mendaftar di biMBA-AIUEO. Namun, anak perempuan itu tiba-tiba menangis histeris di depan pintu pagar dan tidak mau masuk ke dalam. Dengan ramah, Kepala Unit mempersilakan sang nenek masuk dan bertanya maksud kedatangan nenek tersebut. Rupanya, nenek tersebut berniat untuk mendaftarkan cucunya di biMBA-AIUEO. Ia bercerita kalau cucunya trauma untuk bersekolah. Hal ini disebabkan saat di sekolah lama, cucunya pernah dimarahi oleh gurunya.

Mendengar tangisan anak perempuan itu yang semakin keras, kami pun mencoba untuk mendekatinya. Perlahan kami menyapanya dan mulai memperkenalkan diri. Setelah ia mulai tenang, kemudian kami arahkan ia untuk melakukan aktivitas yang ia sukai. Meskipun ia tidak mau masuk ke dalam kelas, tapi kami mencoba untuk membuatnya merasa nyaman terlebih dahulu untuk melakukan kegiatan bermain sambil belajar.

Cerita di atas mungkin juga pernah dialami oleh Ayah Bunda. Anak merasa takut bahkan trauma untuk datang ke sekolah, sehingga anak merasa tidak nyaman dan mogok bersekolah. Hal ini membuat kita sebagai orang tua merasa khawatir akan perkembangan psikologis anak.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, takut adalah merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana. Sedangkan, trauma adalah keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani.

Baca juga

Sebagai orang tua, penting bagi kita mengetahui cara menyikapi rasa takut dan trauma yang dialami oleh anak. Agar anak dapat merasakan kenyamanan saat mendapatkan pendidikan sesuai dengan usianya. Berikut adalah cara menyikapi rasa takut dan trauma yang dialami oleh anak:

1. Mulai dengan pendekatan individual

Anak-anak, khususnya anak usia dini merupakan makhluk istimewa yang harus selalu diberikan cinta dan kasih sayang yang tulus. Keingintahuannya yang sangat besar membuat kita sebagai orang dewasa terkadang sering tidak sabar dalam mendidiknya. Biasanya, kita mengharapkan anak dapat mengerti apa yang kita perintahkan. Namun di sisi lain, ternyata kitalah yang seharusnya mengerti keinginan dan kemauan anak. Mulailah dengan melakukan pendekatan secara individual, kemudian cari tahu apa yang menyebabkan anak menjadi takut dan trauma. Ajak anak untuk berdiskusi dengan kita dan jangan lupa untuk menciptakan suasana yang nyaman bagi anak agar anak mau bercerita tanpa rasa takut.

2. Lakukan secara bertahap

Setelah kita mengetahui penyebab anak menjadi takut dan trauma, temui pembimbingnya di sekolah. Lakukan diskusi agar kita mengetahui berdasarkan cerita pembimbing. Kalau pembimbing memahami bahwa proses belajar yang menyenangkan jauh lebih penting dari hasil belajar, maka anak kita berada di tempat yang tepat. Orang tua dan pembimbing di sekolah bisa saling bekerja sama agar anak tetap merasa nyaman selama mengikuti kegiatan bermain sambil belajar di sekolah. Sebaliknya, kalau pembimbing lebih mementingkan hasil belajar, sebaiknya orang tua mencari sekolah yang ramah bagi anak.

3. Selalu gunakan Fun Learning

Di usia dini (golden age) anak membutuhkan proses adaptasi yang berbeda-beda, ada yang cepat beradaptasi, namun ada pula yang butuh proses lama. Tekanan dan paksaan yang dialami oleh anak akan membuat ia takut dan berdampak trauma pada psikisnya. Tekanan tersebut juga akan mengakibatkan anak menjadi benci belajar. Sebaliknya, kalau proses belajar dilakukan dengan membuat anak nyaman terlebih dahulu, maka anak mau mengulangi proses belajarnya kembali. Semakin sering anak melakukan proses latihan, maka berdampak pada kemampuannya yang semakin meningkat. Oleh karena itu, anak akan jauh lebih siap dan proses belajar pun akan semakin menyenangkan (fun learning).

Pendidikan bukan semata-mata untuk memperoleh hasil atau kemampuan saja, tapi pendidikan adalah sebuah proses belajar yang menyenangkan bagi peserta didik. Mari kita ciptakan pendidikan yang menyenangkan bagi anak, agar tercipta “Generasi Pembelajar Mandiri Sepanjang Hayat”. Salam biMBA. (TC)

Tinggalkan Balasan