Kolaborasi Antar Guru Dalam Membina Murid

 

Seminar Pendidikan dari School of Education, Universitas Siswa Bangsa Internasional

Pada hari Selasa, 15 Januari 2013, biMBA-AIUEO diundang oleh Universitas Siswa Bangsa International, School of Education, untuk menghadiri Seminar Pendidikan dengan tema Teacher Collaboration:  In School Professional Development to Improve Learning and Teaching in Indonesia (Kolaborasi Guru: Pengembangan Profesional Dalam Sekolah Untuk Meningkatkan Pembelajaran dan Pengajaran di Indonesia) menghadirkan dua orang  ahli pendidikan  dari Michigan State University sebagai pembicara yaitu Dr. Jack Schwille dan Dr. Sharon Schwille dengan pembawa acara  Kenneth Moore,  salah seorang dosen Universitas Siswa Bangsa International, School of Education.

 

Dalam seminar ini topik utama yang dibahas adalah problem-problem yang dihadapi seorang guru, khususnya guru baru, dalam menghadapi kelas pertamanya tanpa memiliki strategi pengajaran yang jelas dan ekspektasi untuk mendapatkan saran-saran dalam meningkatkan mutu pengajaran.    Pada saat yang sama, Guru yang berpengalaman pun juga memiliki kendala dalam membantu guru-guru baru tersebut.

 

Sebelum membahas topik utama, diawal seminar Dr. Sharon Schwille meminta audiens untuk berdiskusi menceritakan pengalaman-pengalaman awal sebagai guru baru.   Ini dilakukan untuk mengetahui hal baik atau buruk apa yang guru hadapi pada saat pertama kali mengajar di kelas. Berikut rangkuman diskusi singkat tersebut:

 

Dari diskusi singkat tersebut ditemukan bahwa problem utama yang guru baru hadapi adalah ketidaksiapan dalam menyiapkan strategi mengajar yang baik.   Strategi mengajar yang baik seharusnya dibuat oleh guru sebelum mengajar sehingga pengajaran dikelas dapat terukur dan dilaksanakan dengan baik.    Menurut Dr. Sharon Schwille hal tersebut sangat wajar karena minimnya pengalaman dari guru baru tersebut dan juga hambatan yang dialami guru berpengalaman dalam membimbing guru baru.

Menurut beliau, pembuatan strategi yang baik sangat diperlukan dalam iklim pembelajaran kohesif dimana murid dan guru saling berinteraksi dan berdiskusi dikelas (sistem pembelajaran yang sedang berkembang di Indonesia).  Dalam membuat strategi tersebut, beliau menegaskan bahwa diperlukannya suatu Teacher Collaboration (kolaborasi antar guru) yang baik yang bermanfaat untuk menemukan gagasan baru untuk meningkatkan  kemampuan diri.

 

Teacher Collaboration adalah kerjasama yang dilakukan oleh para guru untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dalam hal ini khususnya dalam hal pengajaran.   Dr. Sharon Schwille menjelaskan bahwa langkah penting yang dapat dilakukan untuk membentuk kerjasama antar guru yang baik adalah dengan melakukan Planning (perencanaan), Teaching (Mengajar), Co-thinking (berpikir bersama), dan Assessment (Penilaian).

 

Menurut Dr. Jack Schwille untuk melaksanakan Teaching Collaboration tidaklah mudah.   Beliau memberi contoh dari empat poin diatas, biasanya guru di Amerika Serikat sangat kesusahan dalam melakukan Planning, Teaching, dan Assessment.   Hal ini dikarenakan rata-rata guru di Amerika Serikat memiliki beban kerja yang banyak sehingga mereka tidak bisa menyisihkan waktu untuk saling berdiskusi antar guru.   Selain itu juga, banyak guru yang tidak suka untuk diobservasi oleh guru lain pada saat mereka mengajar dikelas.   Ini menyebabkan murid-murid tidak dapat menerima matari pembelajaran dengan baik dan juga hubungan antar guru yang renggang.

 

Dalam diskusi topik ini, para audiens seminar yang mayoritas guru juga mengiyakan problem tersebut.   Banyak dari mereka kesusahan mencari waktu karena padatnya jadwal mengajar dan juga keterbatasan jumlah para pengajar.   Guru-guru juga mengiyakan bahwa tidak selamanya mereka nyaman diobservasi pada waktu mengajar di kelas.

 

Namun menurut Dr. Jack Schwille para guru haruslah merubah paradigma “tidak punya cukup waktu” tersebut. Menurut beliau, semua orang punya waktu yang sama yaitu 24 jam sehari sehingga para guru seharusnya dapat mengatur waktu mereka dengan baik untuk melaksanakan Teaching Collaboration. Mengenai observasi guru, beliau menekankan pentingnya aspek ini karena guru dapat menerima kritik dan saran yang baik. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran semua guru. Dia juga menyarankan untuk menggunakan alat perekam jika memang guru keberatan diobservasi langsung oleh guru lain.

 

Pada sesi ini, Dr. Jack Schwille juga memberikan kesempatan kepada para audiens untuk memberikan masukan. Mayoritas opini dari audiens adalah guru dapat membuat jadwal pertemuan khusus paling tidak seminggu sekali untuk mengadakan diskusi antar guru. Jika memang jadwal terlalu padat, bisa juga diskusi tersebut diadakan pada waktu jam istirahat. Selain itu, pada kondisi guru terpisah satu sama lain, biMBA-AIUEO memberikan masukan yang diwakili oleh Bapak Harubimo Equin.

“biMBA-AlUEO adalah lembaga pendidikan anak usia dini dengan fokus bimbingan MINAT Baca dan belajar yang telah berkembang secara pesat.   Begitu juga dengan jumlah guru.  Guru-guru kami mengajar pada unit-unit yang terpisah satu sama lain, sehingga untuk melakukan semacam diskusi atau training penyegaran, dengan jarak, waktu dan kesibukan yang padat menjadi suatu tantangan tersendiri.   Akan tetapi kami mengatasi hal tersebut  dengan memanfaatkan video conference.

Mendengar kata Video Conference, Dr. Sharon Schwille mengiyakan bahwa penggunaan teknologi ini dapat menjadi salah satu cara untuk mengatur waktu dalam meningkatkan Teaching Collaboration. Pada akhir seminar, beliau berharap selain para guru menerima ilmu-ilmu baru dalam hal mengajar, guru dapat mempraktikan langsung metode ini dikelas. Sehingga para murid tidak merasa terbebani dalam belajar dan juga menerima materi-materi belajar dengan baik.(Haru Bimo)

 

Tinggalkan Balasan

3 pemikiran di “Kolaborasi Antar Guru Dalam Membina Murid”