Memanfaatkan Gadget untuk Membangun Minat Belajar Anak dan Menciptakan Generasi Cerdas dan Inovatif

Memanfaatkan Gadget untuk Membangun Minat Belajar Anak
Penggunaan Gadget pada Anak

Tingginya Penggunaan Gadget pada Anak

Zaman telah berubah, kemajuan teknologi berperan besar dalam berubahnya tatanan kehidupan di dunia. Teknologi telah mempengaruhi beragam aspek, mulai dari sosial, ekonomi, transportasi, komunikasi dan lain-lain.

Dewasa ini, tidak dapat kita pungkiri bahwa gadget dapat diakses oleh semua kalangan. Mulai dari balita, remaja, dewasa hingga lansia pun dapat dengan fasih menggunakannya. Penggunaan gadget di kalangan anak-anak dan remaja Indonesia jumlahnya sangat besar.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Unicef dan Keminfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika) pada tahun 2014 melaporkan bahwa 79,5% pengguna gadget smartphone di Indonesia adalah remaja dan anak-anak. Tentu pada tahun 2016 ini jumlah pengguna gadget dari kalangan anak dan remaja meningkat dari tahun-tahun sebelumnya karena gadget tidak menjadi barang elite lagi di Indonesia, artinya semua lapisan ekonomi masyarakat mampu membelinya. Gadget yang digunakan mereka biasanya berupa smartphone dan tablet yang dapat dibeli dengan kisaran harga terendah yakni Rp. 300.000.

Tingkat popularitas gadget pada kalangan anak-anak tak lepas dari fitur-fiturnya yang menarik. Namun mayoritas mereka menggunakan gadget hanya untuk bermain games atau sekadar menonton video. Gadget terkadang juga menjadi solusi instan bagi orangtua saat menghadapi anak yang rewel.

Gadget Sebagai Media Pembelajaran dan Media Baca

Gadget memiliki banyak keunggulan yang dapat dimanfaatkan sebagai pendukung sarana baca dan pembelajaran bagi anak. Keunggulan pertama yaitu gadget memiliki ruang penyimpanan yang sangat besar tergantung spesifikasi masing-masing merek dibandingkan dengan penggunaan buku secara konvensional. Gadget mampu menyimpan puluhan hingga ratusan bahan bacaan dalam bentuk softfile atau software.

Perangkat lunak aplikasi bahan bacaan biasanya memiliki karakteristik yang beragam tergantung usia pengguna. Pada orang dewasa, bahan bacaan disajikan dalam bentuk buku elektronik sedangkan untuk anak usia dini yaitu berupa cuplikan-cuplikan layar atau sering disebut ‘slide halaman’.

Pada anak, bahan bacaan juga disajikan dalam bentuk yang sangat menarik perhatian, seperti tercantumnya gambar ilustrasi yang membuat sang anak berimajinasi saat membaca bahan bacaan tersebut. Selain itu, terkadang bahan bacaan juga diberikan efek suara atau backsound yang juga menarik antusiasme dari anak. Misalnya bahan bacaan yang disajikan adalah cerita rakyat asal Sumatera Utara, Malin Kundang. Pada bagian yang berlatar suasana haru yaitu saat malin berpamitan dengan ibunya untuk pergi merantau, diberikan backsound biola dengan alunan lembut, begitu pula dengan adegan lain tergantung suasana latar dari bahan bacaan. Hal tersebut merupakan keunggulan kedua dari gadget.

Keunggulan ketiga, gadget bersifat mobile atau dapat dengan mudah dipindah-pindahkan. Ukurannya yang kecil dan pas di kantung pengguna memungkinkan penggunaan perangkat ini dimana saja. Kebutuhan pasokan listrik sebagai sumber daya utama bagi gadget juga sudah degan sangat mudah diakses. Dengan adanya perangkat keras penyimpan daya seperti powerbank, membuat gadget sangat fleksibel penggunaannya. Sehingga, lokasi yang kurang memadai akan listrik telah teratasi dengan perangkat ini. Lalu, apabila menilik dari sifat anak-anak yang mudah bosan dengan suatu keadaan, keunggulan ini menjawab dengan lugas permasalahan tersebut. Gadget dapat digunakan dimana saja dan kapan saja oleh sang anak.

Keunggulan keempat dari gadget adalah fiturnya yang beragam. Para produsen gadget tentu ingin memenangkan produknya di pasaran, sehingga mereka berlomba-lomba menjual produk dengan fitur-fitur yang dapat menarik perhatian pengguna atau pembeli. Banyaknya jenis software aplikasi sangat memungkinkan anak untuk melakukan bermacam hal dalam jeda waktu yang relatif singkat,  contohnya bermain games bertemakan permainan tradisional.

Permainan tradisional seperti congklak, ular tangga, dan kelereng dapat dimainkan dalam waktu bersamaan karena dikemas secara virtual dalam layar gadget.  Fitur berupa games dapat digunakan sebagai pendekatan untuk anak guna meningkatkan minat mereka dalam membaca. Games yang menekankan pada kejelian mata anak akan memacu daya konsentrasi yang mereka miliki. Begitu pula dengan games yang mengajak pengguna untuk bergerak cepat, tentu secara tidak langsung akan meningkatkan kelincahan sang anak.

Menurut Anies Baswedan, menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 2014-2016, pendekatan melalui metode kinestetis dalam pembangunan minat baca pada anak jauh lebih efektif daripada pendekatan secara verbal.

Parental Control dalam Penggunaan Gadget bagi Anak

Dengan segala keunggulan dari gadget sebagai media pembelajaran, tentu diperlukannya peran orang tua dalam pengawasan agar proses kemajuan anak menjadi terarah dan memanfaatkan gadget untuk membangun minat belajar anak.  Anak perlu senantiasa dimotivasi supaya minat belajarnya konsisten dan teguh. Sifat alamiah anak-anak yang senang bermain tentu menjadi tantangan besar bagi orang tua  dalam proses ini. Memotivasi bukan berarti menanamkan paradigma bahwa belajar adalah yang paling penting dibandingkan melakukan kegiatan lainnya. Memforsir anak untuk selalu belajar tidak menjadi langkah terbaik untuk masa pertumbuhan anak.

Pendampingan yang dimaksud adalah pengaturan jadwal antara membaca bahan belajar dan bermain. Orangtua berkewajiban penuh memegang kendali jadwal kegiatan anak. Penggunaan metode belajar sambil bermain juga menjadi salah satu alternatif bagi orangtua dalam membimbing sang anak untuk melewati masa-masa krusialnya ini. Selain itu, anak sebaiknya tidak diajarkan terlebih dahulu cara mengakses internet sehingga tidak memberi celah kosong yang bisa saja menjadi blunder pada perkembangan anak.

Penggunaan aplikasi offline lebih dianjurkan daripada aplikasi berbasis online atau aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Orangtua juga harus mempertimbangkan perkembangan sosial bagi anak yakni dengan memberi porsi untuk anak bersosialisasi dengan anak lain, dapat dilakukan di lingkungan rumah maupun sekolah. Sehingga dengan begitu, selain intelektual sang anak berkembang, kepekaan terhadap sosial dalam diri anak juga terbangun. (Rizky Dika Pratama)