Menengok Perpustakaan Keliling di Berbagai Negara

Ketika kita berpikir tentang perpustakaan, pertama kali yang kita bayangkan adalah sebuah bangunan yang biasanya terdapat didalam sekolah, gedung perkantoran atau di lokasi tertentu, lengkap dengan lemari-lemari besar berisi berbagai jenis buku, tersedia kursi atau bangku-bangku yang tertata apik dan rapi serta tempat yang nyaman sehingga menarik seseorang untuk mengunjungi bangunan tersebut. Namun, ada juga perpustakaan yang mendatangi warga di tempat tertentu, dimana mereka biasa berkumpul. Perpustakaan ini disebut dengan perpustakaan keliling. Perpustakaan ini akan berusaha mendatangi anak-anak dimanapun mereka berada.

Di beberapa negara miskin seperti Kenya, Mongolia dan Kolombia, kedatangan perpustakaan adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh masyarakatnya. Mereka begitu antusias dan semangat menyambut kedatangan buku-buku tersebut. Eskpresi bahagia terpancar di wajah anak-anak itu. Uniknya, buku-buku itu ternyata dibawa oleh para pustakawan menggunakan berbagai jenis binatang, ada unta, gajah, kuda, sapi, rusa dan keledai. Kepedulian pustakawan ini telah membantu mengurangi buta huruf di negara tersebut. Begitu besarnya peran buku dalam kehidupan mereka, hingga manfaat perpustakaan keliling ini sama pentingnya dengan udara atau air.

Perpustakaan di Kenya

p
Sumber : http://news.bbc.co.uk/2/shared/spl/hi/picture_gallery/05/africa_kenyan_camel_library/html/1.stm

Perpustakaan keliling di Kenya berada di kota Garissa dan Wajir, timur laut Kenya. Penduduknya masih banyak yang buta huruf dan tidak mampu untuk membeli buku. Ketika para orang tua punya sedikit uang, pasti hanya untuk membeli keperluan makanan saja. Padahal anak-anak sangat haus akan ilmu pengetahuan. Hadirnya perpustakaan keliling ini membuat hidup mereka lebih cerah dan bahagia. Mereka selalu menyambut kedatangan buku-buku ini dengan antusias dan semangat. Inilah saat yang ditunggu-tunggu bagi mereka untuk melahap berbagai informasi dan belajar berbagai hal dari buku-buku yang tersedia.

Perpustakaan keliling ini menggunakan unta sebagai alat pengangkut buku-bukunya. Perpustakaan ini keliling dari hari senin sampai dengan kamis, mulai pukul 8 pagi hingga 6 sore, dan mengunjungi desa-desa setiap 14 hari sekali. Ada 9 ekor unta yang membawa buku di kotak kayu. 1 kotak kayu berisi 200 buah buku. Ketika tiba di lokasi, pustakawan segera menggelar buku-bukunya di atas tikar. Kemudian anak-anak dan orang dewasa mengerubungi dan memilih buku yang mereka sukai. Mereka membaca bersama-sama di bawah pepohonan. Perpustakaan ini hadir hanya 14 hari sekali, maka anak-anak diperkenankan untuk meminjam 2 buku selama 14 hari.

Perpustakaan unta di Kenya dimulai pada tahun 1996. Hingga saat ini, telah terdaftar sejumlah 6.000 orang anggota perpustakaan unta. Pada bulan November 2012, perpustakaan unta ini telah berhasil membantu mengurangi buta huruf di wilayah timur laut Kenya. Sekolah-sekolah yang telah mereka layani mengatakan bahwa terdapat peningkatan yang besar bagi standar pendidikan mereka, karena anak-anak mampu mengikuti ujian nasional dengan baik.

Perpustakaan di Mongolia

p2
Sumber : http://archive.indianexpress.com/news/mongolian-author-rides-camel-to-bring-children-closer-to-books/575841/

Perpustakaan keliling di Mongolia diperkenalkan oleh seorang penulis cerita anak yaitu, Jamba Dashdondog, dengan tujuan agar anak-anak di daerah terpencil Mongolia menyukai buku. Untuk menarik minat anak-anak menyukai buku, ia rela berkeliling desa dengan menunggang berbagai jenis binatang, seperti unta, kuda, sapi dan rusa. Ia membawa berbagai jenis buku cerita dan puisi dari berbagai bahasa yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Mongolia. Menariknya, ia tidak bisa menggunakan bahasa Inggris, sehingga ia bekerjasama dengan rekannya dari kedutaan besar Mongolia untuk menterjemahkan cerita-cerita tersebut.

Hingga saat ini, usaha Jamba Dashdondong untuk berkeliling membawakan buku ke anak-anak telah berjalan selama 21 tahun. Perpustakaan itu telah berkeliling Mongolia sejauh 81.000 KM dan kini koleksi perpustakaannya hingga mencapai 10.000 buku. Atas usaha mulianya tersebut ia mendapatkan beberapa penghargaan dan memenangkan the International Board on Books for Young People (IBBY) – Asahi Reading Promotion Award pada tahun 2006. Penghargaan ini diberikan 2 tahun sekali kepada seseorang atau lembaga yang telah berkontribusi untuk mempromosikan membaca di kalangan anak dan remaja.

Perpustakaan di Kolombia

p3
Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Biblioburro

Di daerah terpencil Magdalena, Kolombia, perpustakaan keliling diperkenalkan oleh Luis Soriano. Ia seorang guru SD dan bercita-cita ingin pendidikan dan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak kolombia. Ia melihat masih banyak anak-anak yang sulit membaca buku-buku bagus dan sulit untuk melanjutkan sekolah. Oleh karena itu sejak tahun 1990-an, ia berkeliling desa setiap Rabu sore dan Sabtu pagi sambil menunggang keledai, menyusuri padang rumput, lembah dan sungai sambil membawakan buku untuk anak-anak. Pendistribusian buku menggunakan keledai ini dikenal dengan istilah biblioburro.

Luis Soriano mendistribusikan buku-buku tersebut dari punggung 2 kedelainya, bernama Alfa dan Beto. Jika kedua namanya digabungkan menjadi, “Alfabheto” yang artinya “Alfabet”. Awal mulanya ia hanya membawa 70 buah buku, dan kini koleksi bukunya bertambah menjadi 4.800 buah buku. Biblioburro mendapat sambutan hangat dari masyarakat kolombia. Di setiap desa, anak-anak bersemangat dan senang untuk membaca buku dan belajar bersama-sama.(Bunda Ranis)

 

Referensi :

http://news.bbc.co.uk/2/shared/spl/hi/picture_gallery/05/africa_kenyan_camel_library/html/1.stm

http://www.indianexpress.com/news/mongolian-author-rides-camel-to-bring-children-closer-to-books/575841/

http://www.amazon.com/My-Librarian-Is-Camel-Children/dp/1590780930

http://en.wikipedia.org/wiki/Biblioburro

http://www.pbs.org/pov/biblioburro/

Majalah Bobo. 9 Mei 2013

1 Comment

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!