Pendidikan Indonesia Turunkan Minat Baca

Sumber : http://alboemartwork.blogspot.com/2011/03/sejarah-singkat-pendidikan-indonesia.html

Mengapa Pendidikan Indonesia Turunkan Minat Baca?

Dunia pendidikan di Indonesia memang tidak pernah lepas dari kritikan baik itu dari segi mutu pendidikan, maupun dari siswanya yang budaya minat bacanya cenderung menurun.

Ini bukan hanya tugas penting bagi para guru , tetapi tugas bagi semua pihak untuk kembali membangkitkan minat baca di kalangan masyarakat, khususnya anak usia belajar, kata Tommi Yuniawan, S.Pd, M.Hum, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes Semarang di Semarang, Rabu.

Di Indonesia, kata dia, pendidikan diarahkan pada pembentukan manusia Indonesia seutuhnya sebagai warga negara yang pancasilais. Pada dasarnya, proses pendidikan dapat terjadi dalam banyak situasi sosial yang menjadi ruang lingkup kehidupan manusia.

“Secara garis besar proses pendidikan dapat terjadi dalam tiga lingkungan pendidikan yang terkenal dengan sebutan Tri Logi Pendidikan, yaitu Pendidikan di dalam Keluarga (pendidikan informal), pendidikan di dalam Sekolah (pendidikan formal), dan Pendidikan di dalam Masyarakat (pendidikan non formal),” katanya.

Ia menambahkan, pendidikan di dalam keluarga merupakan pendidikan kodrati. Apalagi setelah anak lahir, pengenalan di antara orang tua dan anak-anaknya yang diliputi rasa cinta kasih, ketentraman dan kedamaian.

Membaca merupakan kegiatan dan kemampuan khas manusia. Walaupun demikian, kemampuan membaca tidak terjadi secara otomatis karena harus didahului oleh aktivitas dan kebiasaan membaca yang merupakan wujud dari adanya minat membaca.

“Ketidakpedulian kita akan aktivitas membaca boleh jadi akibat dari kondisi masyarakat kita yang pergerakannya melompat dari keadaan praliterer ke dalam masa pascaliterer, tanpa melalui masa literer, artinya, dari kondisi masyarakat yang tidak pernah membaca akibat tidak terbiasa dengan budaya menulis (terbiasa dengan budaya lisan) ke dalam bentuk masyarakat yang tidak ada minat membaca seiring masuknya teknologi telekomunikasi, informatika, dan broadcasting. Akibatnya, masyarakat kita lebih senang nonton televisi daripada membaca,” katanya.

Menurut Wayne Otto dkk dalam How To Teach Reading (1979), katanya, tujuan pengajaran membaca adalah menolong siswa untuk mengerti strategi membaca.

Ada dua syarat yang diperlukan. Pertama, kondisi apa yang diperlukan siswa agar mereka memiliki minat baca. Kedua, Kondisi apa yang diperlukan guru agar proses pembelajaran membaca dapat dilakukan secara optimal, sehingga dengan mudah siswa melakukan aktivitas membaca.

Sementara itu Sutrisno, S.Pd, seorang guru SMA Negeri di Semarang berpendapat, seperti halnya kegiatan pembelajaran yang lain, upaya menumbuhkan minat baca juga akan lebih mudah dan efektif apabila dilakukan sejak dini, sejak kanak-kanak.

Berdasarkan data terakhir (tahun 2007), persentase penduduk buta aksara di Indonesia setiap tahun cenderung menurun, dan diketahui masih ada 18,7 juta penduduk Indonesia usia 10 tahun ke atas yang buta huruf.

Hal ini masih diperparah dengan kenyataan, bahwa setiap tahun ada 250 ribu-300 ribu siswa kelas 1, 2, dan 3 SD yang putus sekolah.

Ini artinya, orang tua sangat dituntut keikutsertaannya. Orang tua harus memastikan bahwa kecintaan akan membaca adalah tujuan pendidikan yang terpenting bagi anaknya.

Tentu saja, upaya orang tua akan lebih optimal apabila didukung oleh pihak lain. Dari pihak penerbit buku misalnya, dari segi kualitas perwajahan, ilustrasi, isi, dan cara penyajian hendaknya dapat terus diperbaiki. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan ketertarikan anak.

Dari pihak sekolah, hendaknya diterapkan sistem pendidikan yang menimbulkan kegairahan belajar. Misalnya dengan mendorong pendidik untuk memberi penugasan dan anak didik mencari jawabannya, antara lain di perpustakaan. Hingga sejauh ini perpustakaan belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber ilmu pengetahuan, kata Sutrisno.

Ia juga menambahkan, materi program membaca dapat memantau secara individual, mengetahui tingkat kecerdasan, usia, jenis kelamin dan latar belakang siswa, sehingga guru dapat memilihkan bacaan yang cocok untuk siswa.

Selain itu materi itu dapat pula untuk mengetahui kesiapan siswa dalam membaca. Untuk bacaan anak-anak diupayakan agar siswa dapat mengingat kembali peristiwa dan informasi yang dibacanya.(*)

COPYRIGHT © 2008

http://www.antara.co.id/view/?i=1220474559&c=NAS&s=

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: