Sudah Bahagiakah Anak Kita?

Sudah Bahagiakah Anak Kita?
Sumber: freepik.com/jcomp

Setiap tahun gadget berkembang semakin canggih. Seiring semakin banyak penggunanya, istilah gadget pun bukan lagi hal yang asing di telinga masyarakat. Gadget saat ini bukan hanya diperuntukkan bagi orang dewasa saja, bahkan anak usia dini pun sudah sangat mahir dalam menggunakan gadget.

Sering kali kita menggunakan gadget untuk hal yang kurang bermanfaat, seperti bermain sosmed atau game online sampai tengah malam. Selain menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan, banyak yang menganggap orang dewasa memiliki “masa kecil kurang bahagia”. Hal ini disebabkan saat usia dini, mereka lebih sering dipaksa untuk belajar daripada diberikan hak bermain.

Sebagai orang tua, kita tidak ingin anak kehilangan hak bermain di usia dini bukan? Pernahkah kita bertanya, apakah kita sudah memberikan hak bermain untuk anak? Atau sudahkah anak kita menjadi anak yang bahagia? Sering kali orang tua menganggap anak akan bahagia ketika sudah tercukupi keinginannya. Seperti membeli mainan atau membiarkan anak bermain gadget tanpa aturan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kelima, bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Bahagia di sini bukan hanya dalam arti bersenang-senang saja, namun juga ketenteraman dan kenyamanan. Kalau kita memiliki perasaan yang nyaman dan tidak stress, pasti kita akan senantiasa senang untuk melakukan kegiatan apa pun.

Baca juga

Begitu pula yang terjadi pada anak. Anak akan merasa bahagia ketika haknya sudah terpenuhi. Termasuk hak bermain dan hak mendapatkan pendidikan. Berikut hal yang perlu kita pahami agar anak selalu bahagia

Bermain Adalah Dunia Anak

Sudah seharusnya anak usia dini kita beri hak untuk bermain, karena bermain merupakan dunia anak. Bukan hanya permainan yang berhubungan dengan motorik kasar, tapi juga yang berkaitan dengan motorik halus. Seperti yang dilakukan oleh biMBA-AIUEO. Anak melakukan proses belajar dengan konsep bermain sambil belajar.

Di biMBA-AIUEO, selama 1 jam pertemuan anak dibimbing dengan proses belajar yang sepenuhnya menyenangkan, sehingga anak tidak merasa kalau ia sedang belajar. Misalnya dengan menceritakan gambar yang ada di buku cerita sambil memverbalkan kata sederhana.

Dengan begitu, hak bermain dan hak untuk mendapatkan pendidikan akan terpenuhi bagi anak. Anak akan menikmati proses belajar dengan senang hati tanpa memikirkan masa yang akan datang. Kalau anak sudah merasa senang dan nyaman, artinya anak sudah merasa bahagia melakukan proses belajarnya.

Fitrah Anak Sebagai Pembelajar

Sudah menjadi fitrahnya, anak terlahir sebagai seorang pembelajar. Namun, karena pengaruh lingkungan dan proses belajar yang tidak menyenangkan, mengakibatkan anak menjadi malas belajar. Apalagi keinginan orang tua yang selalu berorientasi pada kemampuan dan hasil belajar anak. Pengaruh dan keinginan tersebut akan berdampak pada anak yang menjadi benci belajar dan tidak bahagia.

Oleh karena itu, biMBA-AIUEO berusaha untuk memenuhi kebutuhan anak dengan cara menumbuhkan Minat belajar. Dengan tumbuhnya Minat belajar, anak dapat mencari ilmu di mana pun, tidak hanya dari buku pelajaran sekolah saja. Minat belajar yang meningkat secara luar biasa akan berdampak pada tumbuhnya karakter pembelajar.

Anak usia dini harus menjadi anak yang bahagia, bukan anak yang pintar. Yuk kita penuhi hak bermain dan hak mendapatkan pendidikan pada anak. Dengan memenuhi hak anak, anak akan tumbuh menjadi anak yang senantiasa bahagia. Salam biMBA. (TC)

Tinggalkan Balasan