Sudahkah Ayah Bunda Memberikan Hak Bermain untuk Si Kecil?

Sumber foto: shutterstock.com
Sumber foto: shutterstock.com

Ayah bunda, pastinya Anda sudah paham bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Seorang anak tidak layak diperlakukan dengan serius, tegang, atau kaku sehingga memberikan beban di luar batas kemampuan si kecil. Bermain adalah hak seorang anak yang mana kegiatan tersebut dapat membuat anak bahagia. Oleh karenanya, jangan melarang anak bermain dan terus menerus memaksa buah hati Anda untuk belajar. Sebab, memaksa anak belajar akan mematikan hatinya, menyempitkan hidupnya, dan melemahkan kecerdasannya.

Nah, jadi sudah tahu kan dampak yang terjadi bila anak dipaksa belajar? Hanya saja, sebagian orangtua tidak jarang memiliki pendapat yang berbeda. Mereka bilang dengan belajar anak menjadi pintar, sementara bermain justru membuat anak tidak mau belajar dan tidak bisa sukses di masa depan. Padahal bermain untuk anak usia dini sangatlah penting, sama halnya seperti belajar.

Menurut Papalia, seorang ahli perkembangan manusia dalam bukunya yang berjudul Human Development, dunia anak adalah dunia bermain. Melalui proses bermain anak menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi indra tubuh, mengeksplorasi dunia sekitar, menemukan seperti apa dunia ini dan diri mereka sendiri. Lewat bermain, anak mempelajari hal-hal baru (learn) kapan harus menggunakan keahlian tersebut, serta memuaskan apa yang menjadi kebutuhannya (need). Lewat bermain pun, fisik anak akan terlatih, kemampuan kognitif dan berinteraksi dengan orang lain akan berkembang juga.

Bermain adalah hak anak, ini sesuai dengan konvensi PBB mengenai hak anak yang sudah di ratifikasi oleh pemerintah Indonesia tahun 1990. Bermain juga merupakan kebutuhan anak dan bisa dilakukan kapan, di mana, dengan siapa dan menggunakan apa saja. Bahkan, anak bisa menikmati kesenangan bermain hanya dengan menggunakan imajinasinya.

Ayah bunda juga berperan serta untuk terlibat dalam permainan, mendampingi, dan mendukung kegiatan bermain yang dilakukan anak, juga merangsang anak untuk mengoptimalkan fungsi permainan terhadap aspek-aspek perkembangannya. Permainan memberi efek ke arah perkembangan anak, maka permainan yang mengarah pada perkembangan yang negatif dapat dikontrol, contohnya sikap agresif. Perlu diingat bahwa permainan adalah milik anak, orangtua jangan sampai mendominasi sehingga mengakibatkan kunci permainan yaitu “kesenangan” menjadi hilang.

Yuk, kita ajak anak-anak untuk bermain bersama. Tetap semangat dan terus belajar. (Ern)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: