Tahapan Bermain Anak

Tahapan Bermain Anak
Sumber: Freepik

Bermain adalah bagian mutlak dari fase kehidupan anak. Suatu permainan merupakan wadah bagi anak untuk mengekspresikan jati dirinya. Dengan bermain, otomatis anak akan merasa gembira dengan apa yang ia mainkan, karena kembali pada hakikatnya, bermain merupakan aktivitas menyenangkan yang disukai anak.

Dalam proses bermain, ada beberapa tahapan yang perlu diketahui oleh Ayah Bunda. Tahapan tersebut disesuaikan dengan kondisi sosial anak-anak. Seorang sosiologis dari University of Minnesota’s Institute of Child Development bernama Mildred Parten mengemukakan enam tahapan bermain bagi anak usia dini, yaitu:

1. Unoccupied Behavior/Gerakan Kosong

Anak memperhatikan dan melihat segala sesuatu yang menarik perhatiannya dan melakukan gerakan-gerakan bebas dalam bentuk tingkah laku yang tidak terkontrol.

2. Onlooker Behaviour/Tingkah Laku Pengamat

Anak melihat dan memperhatikan serta melakukan komunikasi dengan anak-anak lain, namun tidak ikut terlibat dalam aktivitas bermain yang tengah terjadi.

Baca juga

3. Solitary Play/Bermain Soliter

Anak dalam sebuah kelompok tengah asyik bermain sendiri-sendiri dengan bermacam-macam alat permainan, sehingga tidak terjadi kontak antara satu sama lain dan tidak peduli terhadap apapun yang terjadi.

4. Parallel Play/Bermain Paralel

Anak-anak bermain dengan permainan yang sama, tetapi tidak terjadi kontak antara satu dengan yang lain, atau tukar menukar alat main. Misalnya, anak bermain puzzle dan anak lain juga bermain puzzle, mereka ada bersama tetapi tidak saling mempengaruhi.

5. Associative Play/Bermain Asosiatif

Anak bermain bersama, saling pinjam alat permainan, tetapi permainan itu tidak mengarah pada satu tujuan, tidak ada pembagian peran dan pembagian alat main.

6. Cooperative Play/Bermain Kooperatif

Anak-anak bermain dalam kelompok yang terorganisir, dengan kegiatan-kegiatan konstruktif dan membuat sesuatu yang nyata. Di mana setiap anak mempunyai pembagian peran sendiri. Pada tahap bermain jenis cooperative, terdapat satu atau dua anak yang bertugas sebagai pemimpin atau pengarah jalannya permainan. Misalnya bermain rumah-rumahan ada yang jadi bapak, ibu dan anak, masing-masing memiliki tugas. (Desmita, 2013:142-143) 

Setelah anak melewati enam tahapan tersebut, apakah bermain memiliki manfaat bagi anak? Jawabannya adalah ya. Bermain merupakan salah satu aktivitas menyenangkan yang dilakukan demi aktivitas itu sendiri. Bermain juga memiliki fungsi dan bentuk (Santrock, 2012:306).

Tinggalkan Balasan