Latar Belakang

Keberadaan biMBA dilatarbelakangi oleh beberapa fakta, di antaranya:

Mitos belajar adalah beban

Baca juga:

Banyak anak usia pelajar yang tidak suka belajar. Coba ingat pengalaman kita semasa sekolah dahulu. Apakah kita senang belajar atau senang ketika tidak ada guru? biMBA ingin mengubah mitos tersebut, ketika anak sudah di”biMBA”kan, anak akan merasa bahwa belajar adalah kegiatan yang menyenangkan dan anak akan ingin mengulanginya lagi di mana pun dan kapan pun.

Dampak negatif globalisasi media elektronik

pengaruh-tvPasti kita sangat akrab dengan gambar di atas. Berapa banyak anak-anak yang lebih senang menonton TV atau bermain Game dibandingkan belajar atau membaca buku. Ada apa dengan anak-anak kita? Kembali lagi bahwa anak merasa belajar itu membosankan dan banyak aturan, sedangkan bermain Game atau menonton TV itu menyenangkan. biMBA ingin memperbaiki keadaan tersebut dengan menanamkan pengalaman positif kepada anak bahwa belajar kegiatan yang sangat menyenangkan,  dengan metode biMBA dan konsep bermain sambil belajar memberikan Hak anak pendidikan yang menyenangkan. sehingga anak tumbuh Minat belajar secara intrinsik, ketika dihadapkan dengan globalisasi media elektronik mereka akan gunakan untuk menunjang minat belajar mereka, dan akhirnya media tersebut berdampak positif

Kemampuan membaca yang rendah

Kondisi minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Hal tersebut terlihat dari data yang dikeluarkan BPS (Badan Pusat Statistik) pada 2006. Bahwa, masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan mendengarkan radio (40,3%) dibandingkan membaca koran (23,5%). (www.bps.go.id).

Data lain, misalnya IEA (International Association for Evaluation of Educational). Tahun 1992, IEA melakukan riset tentang kemampuan membaca murid-murid SD (Sekolah Dasar) kelas IV di 30 negara di dunia. Kesimpulan dari riset tersebut menyebutkan bahwa Indonesia menempatkan urutan ke-29. Angka-angka itu menggambarkan betapa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak SD.

Mengapa hal itu terjadi? Karena sebagian besar orangtua hanya sibuk mengejar anak supaya bisa baca. Anak dikatakan bisa membaca ketika sudah bisa membunyikan kata atau kalimat. Definisi membaca di biMBA bukan sekadar anak bisa membunyikan kata atau kalimat, tetapi anak mengerti apa yang dibacanya. Coba kita ingat, berapa banyak anak-anak yang dapat membaca sebuah cerita dengan suara yang lantang, tetapi ketika diminta untuk menceritakan kembali isi cerita kok tidak bisa?

Biaya pendidikan tinggi

biaya sekolah tinggiSemakin tingginya biaya pendidikan membuat semakin banyak anak yang tidak bisa sekolah. Penanaman MINAT baca dan belajar sejak usia dini (biMBA) diperlukan untuk mengantisipasi hal tersebut, sehingga ketika keadaan yang mengharuskan mereka tidak bisa melanjutkan sekolah, mereka tidak putus asa dan masih memiliki semangat untuk tetap belajar walaupun bukan di sekolah. Inilah yang dinamakan generasi pembelajar mandiri sepanjang hayat.

Usia dini merupakan Golden Age atau Critical Period

Masa golden age atau masa emas ( 0 – 6 tahun) merupakan fase terpenting dalam kehidupan manusia, yaitu fase terbaik dalam menumbuhkan karakter. Psikolog menyimpulkan bahwa pada usia ini kemampuan otak anak seperti spon yang cepat menyerap informasi dan stimulus yang diberikan oleh lingkungan.

Mengapa disebut critical period? karena apa yang ditumbuhkan pada masa golden age akan berpengaruh hingga usia anak 20 tahun yang akan datang. Jika pada masa ini orangtua dan orang dewasa disekitar anak memberikan stimulus yang positif maka akan menumbuhkan karakter yang positif bagi anak, dan sebaliknya jika ditanamkan sejak usia dini belajar tidak menyenangkan, dipaksa, dimarahi maka anak akan memiliki karakter benci belajar. Maka biMBA hadir untuk memenuhi HAK ANAK yaitu dengan memberikan bimbingan MINAT Belajar Anak (pendidikan yang sepenuhnya menyenangkan berbasis cinta dan kasih sayang) agar anak menjadi generasi (yang memiliki karakter) pembelajar mandiri sepanjang hayat.