Tingkatkan Minat Baca Anak Melalui Metode biMBA-AIUEO

Tingkatkan Minat Baca Anak Melalui Metode biMBA-AIUEO
Anak bisa baca itu biasa, tapi anak punya minat baca itu baru luar biasa. [psikologan.blogspot.co.id/]
Buku adalah jendela dunia, kita sering mendengar kata-kata itu. Memang pada dasarnya buku adalah gudangnya ilmu, ilmu pengetahuan apapun bisa didapatkan dengan membaca buku, bukan hanya buku kini dimudahkan dengan adanya teknologi, sehingga siapapun bisa membaca buku melalui pencarian di internet lewat gadget masing-masing di manapun dan kapanpun.

Hanya saja sebagian orang belum memahami manfaat dari membaca, sehingga lebih menyukai main game, nonton televisi dibanding dengan membaca. Padahal lewat membaca kita bisa mencegah kebodohan dan kemiskinan yang merajalela di Negeri ini. Bangsa yang malas membaca adalah bangsa yang memiliki pengetahuan sempit sehinga dekat dengan kebodohan, sementara kebodohan dekat dengan kemiskinan, dan kemiskinan dekat dengan kejahatan.

Baca: Pengaruh Gadget pada Minat Baca Anak

Dampak tersebut sudah terbukti, mengingat orang Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki Minat baca yang rendah. Seperti data IEA (International Association for Evaluation of Educational) pada tahun 1992, IEA melakukan riset tentang kemampuan membaca murid-murid SD kelas IV di 30 negara di dunia termasuk Indonesia, kesimpulannya adalah Negara Indonesia mendapat peringkat ke-29.

Data tersebut bisa dijabarkan lebih jauh lewat dunia penerbitan buku. Indonesia mampu menerbitkan 12 ribu judul buku selama satu tahun, dengan asumsi setiap judul dicetak 3.000 ekslempar, dalam satu tahun ada sekitar 36 juta buku. Jika kita bagi rata dengan jumlah penduduk di Indonesia, maka hasilnya 6,6 atau dibulatkan menjadi 7, itu berarti 1 buku dibaca 7 orang dalam satu tahun.

Tentunya kita tidak ingin bangsa ini menjadi menjadi bangsa yang bodoh dan dibodohi, generasi penerus harus lebih baik terutama dalam hal ilmu pengetahuan. Aset terbesar adalah anak-anak, sedini mungkin anak harus ditumbuhkan minat belajarnya, kelak ketika sudah dewasa anak akan membangun bangsa ini menjadi lebih maju dan mampu bersaing dengan negara lainnya.

Hadirnya biMBA-AIUEO juga menjadi sebuah titik terang bahwa negeri ini harus berubah, kelemahan bangsa Indonesia dalam membaca juga yang melatarbelakangi berdirinya biMBA-AIUEO. Sesuai dengan visinya ingin membangun generasi pembelajar mandiri sepanjang hayat. Tidak pernah lelah dalam mencari ilmu, karena ilmu tidak terbatas, semakin dicari dan digali tidak akan pernah habis.

biMBA-AIUEO memiliki beberapa metode yang dapat meningkatkan Minat baca dan belajar anak, berfokus pada anak-anak usia dini yang karakternya lebih mudah terbentuk, karena anak pada usia tersebut adalah anak yang suka meniru-niru. Jika sedini mungkin mengajarkan belajar dan baca dengan metode yang benar, maka anak akan suka baca dan belajar dari kecil sampai besar sehingga mendarah daging, menganggap bahwa mencari ilmu adalah sebuah kebutuhan.

Berikut adalah metode-metode biMBA-AIUEO yang ditujukan untuk merangsang pertumbuhan Minat baca dan belajar anak.

1. Fun Learning

Cara belajar anak usia dini memang harus disesuaikan dengan usianya, anak-anak cenderung lebih suka bermain daripada belajar, jangan sampai anak merasa bahwa belajar adalah sebuah beban. Fun learning adalah salah satu metode biMBA-AIUEO yang mutlak karena anak menyukai hal-hal yang menyenangkan.

Baca: Bagaimana Cara Belajar 100% Fun Learning?

2. Small Step System

Pembelajaran secara bertahap bagi anak juga hal yang penting. Anak mulai belajar dari hal yang mudah setahap demi setahap, sehingga anak tidak merasa kesulitan. Anak yang menguasai pelajaran akan menjadi anak yang percaya diri dan selalu diikuti dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

3. Individual System

Metode yang juga merupakan metode yang tepat untuk diterapkan kepada anak. Anak sebagai subjek belajar, kelebihannya adalah guru lebih dekat dengan anak sehingga akan tahu apa yang anak sukai dan tidak disukainya, proses belajarnya pun berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia yang lebih banyak menerapkan kebalikannya, guru sebagai subjek belajar, dimana anak-anak harus mendengarkan guru menerangkan sementara guru tidak bisa menilai keseluruhan anak apakah anak suka atau tidak suka.

Baca: Pentingnya Individual Sistem untuk Anak

Ketiga metode ini bisa menjadi proses belajar yang baik untuk diterapkan kepada anak-anak, agar mulai membiasakan membaca dan belajar di manapun dan kapanpun, tanpa paksaan tetapi atas keinginannya sendiri. Semoga kelak bangsa ini bisa menjadi bangsa yang cerdas dan mampu bersaing di masa yang akan datang. Tetap semangat dan terus belajar. (Ern)

Tinggalkan Balasan