Tips Hadapi Anak yang Banyak Bertanya

Tips Hadapi Anak yang Banyak Bertanya
Sumber: Freepik.com/rawpixel-com

Fase perkembangan sering bertanya ini biasanya dimulai ketika anak berusia 2-3 tahun dan berlanjut hingga 4-5 tahun. Menanyakan “kenapa?” adalah tanda keingintahuan dan keinginan untuk memahami dunia sekitar mereka, yang mungkin tampak besar dan menakutkan bagi balita.

Anak jadi banyak bertanya karena memang begitulah tahap perkembangan mereka. Mereka  sedang mengembangkan aspek kognitifnya dan mulai mencoba memahami kenapa sesuatu bisa terjadi.

Orang tua sebaiknya jangan kesal atau lelah ketika anak banyak bertanya. Ini  merupakan tanda bahwa anak sedang mengembangkan kemampuan berpikir logisnya. Wajar sekali kalau anak sering bertanya “kenapa?”. Justru orang tua harus senang ketika anak banyak bertanya.

Baca juga

Berikut tips menghadapi anak banyak bertanya yang bisa kita lakukan.

1. Memperbaiki pola pikir

Sebagai orang tua kita harus memperbaiki pola pikir tentang repotnya menjawab pertanyaan anak. Ingatlah, bahwa dulu kita pun pernah berada di posisi mereka. Pahami bahwa semua pertanyaan “kenapa?” itu memang proses perkembangan dari seseorang.

2. Merespon dengan sikap yang baik

Hindari menunjukkan ekspresi marah, mengeluh, dan penolakan, karena nanti anak bisa kecewa dan justru enggan untuk berpikir kritis ke depannya.

3. Menjawab pertanyaan dengan jujur

Beri jawaban atas pertanyaan anak sebisa kita. Kalau kita memang belum tahu jawabannya, jawab jujur saja. “Wah pertanyaan kamu bagus, tapi boleh tidak kasih Bunda waktu untuk cari tahu? Nanti kalau Bunda sudah tahu, Bunda langsung kasih tahu kamu.” Atau “Bunda sekarang belum tahu, bagaimana kalau kita cari sama-sama?” Intinya jangan biarkan anak kita mendapatkan jawaban yang tidak tepat. 

4. Mengajak anak ke tempat-tempat edukasi

Ajak anak ke tempat-tempat edukasi, misalnya museum atau perpustakaan agar anak bisa eksplorasi lebih banyak. Anda juga bisa membelikan dia buku atau akses video-video edukasi yang menyenangkan di youtube (meskipun tetap pakai batasan waktu).

5. Mengajak anak mengeksplorasi langsung

Contohnya ketika anak bertanya “kenapa lantai ini tidak boleh kotor dan harus bersih dari sampah? Kenapa aku tidak boleh buang sampah di sini?” Kita sebagai orang tua bisa langsung memberi contoh, dekatkan sedikit sampah tersebut ke anak. Ketika anak jijik dan tidak suka, kita bisa berikan penjelasan. “karena kalau kotor begini tidak enak kan sayang? Makanya kita tidak boleh buang di sini, harus di tempat sampah.” Dengan begitu, anak bisa mengerti.

6. Mengembalikan pertanyaan kepada anak

Contohnya ketika anak bertanya “kenapa langit warnanya biru Bunda?” Kita bisa jawab “Kalau menurut adek, kenapa langit itu warnanya biru? Coba ceritakan ke Bunda.” Jika anak menjawab dengan hal-hal lucu, dengarkan saja tidak perlu dibantah. Dan jangan lupa untuk berikan respons ketika dia bercerita dengan semangat.

7. Menghentikan pertanyaan anak dengan baik

Jika anak mulai bertanya tanpa henti, kita bisa berkata, “oke, pertanyaan sampai di sini saja ya.” atau “bagaimana kalau kita simpan pertanyaanmu untuk besok sebelum tidur, oke?” Kemudian kita mencari solusi ketika anak menghujani kita dengan pertanyaan. Anggap hal itu sebagai aksinya meminta perhatian. Jika kita bisa menghentikan apa pun yang sedang kita kerjakan untuk bermain dan berdialog dengan anak sebentar, ini bisa mengurangi rentetan pertanyaannya. 

8. Menunda jawaban saat sedang sibuk

Jika kita sedang sibuk, hindari mengatakan “tanya Ayah saja sana!” atau “ngapain tanya begitu sih? Anak kecil tidak perlu tahu!” Nantinya anak akan mematikan daya kritisnya dan itu tidak baik untuk kemampuan kognitifnya. Sebaiknya kita katakan “pertanyaanmu bagus sekali sayang, tapi Bunda belum bisa jawab sekarang karena lagi masak. Nanti kalau sudah selesai masaknya, Bunda jawab ya sayang. Oke?”

9. Memberi penjelasan yang sederhana dan mudah dipahami

Contohnya ketika anak bertanya tentang topik dewasa. Jawab beberapa pertanyaannya, lalu saat sampai di batas yang terlalu sensitif dan sulit, berikan penjelasan sederhana yang mudah dipahami anak. Umumnya anak mudah terdistraksi.

Itulah 9 tips menghadapi anak yang banyak bertanya, semoga dapat bermanfaat bagi Ayah Bunda. Salam biMBA. (Hana)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.